Dampak Televisi terhadap Kebudayaan bangsa - Televisi merupakan bentuk budaya audio visual yang berkembang dari budaya audio (berupa bahasa lisan) dan budaya visual. Dawyer (1988) dalam Hermansyah menjelaskan, sebagai media audio visual, TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. TV mampu untuk membuat orang pada umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar di layar TV walaupun hanya sekali ditayangkan. Efek yang diterima masyarakat dari tayangan televisi menempel secara cepat dan kuat. Disisi lain, sebagai perusahaan profit, televisi sangat terikat pada periklanan dan rating sehingga seringkali terjebak pada situasi yang melanggar norma dan nilai masyarakat. Pada akhirnya televisi menjadi agen budaya popular yang pada saat yang sama merupakan komoditas dari industri budaya yang berakar pada kapitalisme.
Hampir setiap rumah tangga setidaknya punya satu televisi. Rata-rata, satu televisi menyala selama tujuh jam sehari di rumah. Jelas bahwa televisi telah mengubah gaya hidup warga.
Contohnya, sekarang jarang kandidat politik yang tidak menggunakan televisi untuk menarik dukungan. Saat kampanye presiden 2004, manajer kampanye tidak banyak mencari relawan yang berkeliling dari pintu ke pintu dan melakukan kontak personal untuk mendapat dukungan, tetapi lebih berusaha mencari dana untuk mengiklankan kandidat di televisi. Di negara bagian dan di banyak daerah lokal, televisi telah muncul sebagai cara paling efisien dan efektif untuk menjangkau pemilih.
Meskipun televisi dapat efektif dalam menciptakan kesan jangka pendek, ada juga efek jangka panjangnya. Efek jangka panjang eksis baik di level permukaan, seperti kasus Kura-Kura Ninja, maupun di level yang lebih serius. Kritikus sosial Michael Novak mengatakan : "Televisi adalah pembentuk geografi jiwa. Televisi membangun struktur ekspektasi jiwa secara bertahap. Televisi melakukan hal itu persis seperti sekolah memberi pelajaran secara bertahap, selama bertahun-tahun. Televisi mengajari pikiran yang belum matang dan mengajari meraka cara berpikir."
Guncangan Media Massa
Dalam sebuah acara pada 1981, tycoon televisi Ted Turner memprediksi berakhirnya era koran dalam waktu 10 tahun. Tahun 1991 telah berlalu dan, seperti diprediksi Turner, televisi menjadi medium yang makin berjaya tetapi koran masih ada. Turner terlalu melebih-lebihkan dampak televisi, tetapi dia benar ketika menyatakan bahwa televisi terus merebut pembaca dan pengiklan dari koran, dan juga dari media massa lainnya.
Sejak kemunculan televisi pada awal 1950-an, kehadiran televisi telah membentuk ulang media lain. Renungkan hal berikut:
BUKU. Jumlah waktu yang dipakai orang untuk menonton televisi sekarang adalah sama dengan jumlah waktu yang dahulu dihabiskan orang untuk kegiatan lain, termasuk membaca dan mencari informasi. Untuk menghambat penurunan, penerbit buku melakukan promosi besar-besaran agar produk mereka diperhatikan.
KORAN. Siaran berita malam di televisi dan saluran berita 24 jam menjadi faktor utama dari menghilangnya koran sore. kebanyakan koran sore itu beralih menjadi koran pagi. Juga, koran perkotaan hampir kehilangan semua pengiklan nasional, yang beralih ke televisi.
MAJALAH. Televisi merebut pengiklan dari majalah bertiras besar seperti Life, dan memaksa perusahaan majalah mengubah majalahnya untuk melayani segmen yang lebih kecil dari audien massa yang tidak bisa dilayani televisi.
REKAMAN. Sukses musik rekaman sekarang sebagian besar tergantung kepada penyiaran video musik di televisi.
FILM. Seperti majalah yang melakukan demasifikasi setelah televisi merebut pengiklannya, Hollywood juga melakukan demasifikasi setelah televisi mencuri sebagian besar penontonnya. Sekarang, pembuat film yang cerdas akan merancang proyeknya baik untuk layar lebar maupun untuk ditayangkan ulang di televisi melalui jaringan dan untuk video rental.
RADIO. Radio melakukan demasifikasi setelah kedatangan televisi. Jaringan televisi pertama merebut acara radio yang tersukses dan memindahkannya ke layar kaca. karena kehilangan kekuatan acara utamanya, radio kehilangan audien massa dan pengiklan yang telah di nikmati sejak 1920-an. Untuk bertahan hidup satsiun radio mengalihkan acaranya ke musik rekaman dan mengarahkan acaranya ke segmen yang lebih sempit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar